[NEWS] Netizen tertarik dengan ‘Yong singer/songwriter idols’ karena kemampuan musikalitas mereka yang menakjubkan
17.52 |
Banyak idola yang mendapatkan reputasi kurang baik dibandingkan penyanyi bertalenta karena mengikuti keinginan perusahaan mereka. Mereka hanya menghasilkan sedikit dari apa yang sebenarnya dinyanyikan, meskipun begitu, kenyataan akhir-akhir ini tentang ’singer-songwriters’ idol telah mengubah persepsi netizen mengenai arti sebenarnya menjadi idola.
Artis seperti G-Dragon, Jung Yong Hwa, Yong Jun Hyung, dan Bang Yong Guk telah menerima pujian atas kemampuan mereka memproduksi dan mengarang beberapa, meskipun bukan prioritas, musik mereka.
G-Dragon Big Bang memiliki banyak komposisi, yang terbaru adalah lagu yang berkolaborasi dengan komedian Park Myung Soo untuk hit “I Cheated“. Sementara itu, Jung Yong Hwa CN BLUE telah menulis lagunya sendiri sejak awal debutnya, antara lain “Love Light“, “Imagine“, dan “Love Girl“.
Begitu juga dengan Jun Hyung B2ST, kemampuan rap freestyle-nya menarik perhatian sejak awal, dan rookie Bang Yong Guk cukup percaya diri dengan kemampuan mengarangnya yang digunakan untuk membuat lagu sendiri sebagai single debutnya.
Netizen juga tertarik dengan nama dari artis-artis tersebut; khususnya, bagaimana bisa mereka semua memiliki bagian nama ‘Yong 용’ (nama asli G-Dragon Kwon Ji Yong). Seorang netizen bahkan membuat lelucon, “Seseorang harus memiliki kemampuan mengarang lagu jika dia memiliki Yong di dalam namanya.”
Netizen lainnya berkomentar, “Ketika aku memiliki anak laki-laki kelak, aku pasti akan memberinya nama Yong di dalamnya.”
Source: Nate via allkpop
Read User's Comments(0)
[NEWS] Jung Yong Hwa's ex girlfriend's photos
17.34 |
Label:
Heartstrings
Jung Yong Hwa pernah menyebutkan sebelumnya bahwa dia pernah berkencan dengan seorang gadis dari 'Face King', namun mereka sudah putus. Dikatakan di salah satu situs Korea bahwa wanita muda di foto berikut ini merupakan mantan pacar Jung Yong Hwa.
Seiring meningkatnya popularitas C.N. Blue dan Jung Yong Hwa, foto mantan pacarnya itu diungkapkan di internet oleh netizens.
Mantan pacarnya dikenal sebagai Yang di 'Face King'. Banyak penggemar berkomentar bahwa dia adalah seorang wanita cantik dan baik, yang lain mengatakan bahwa 2 foto tersebut tidak terlihat seperti orang yang sama.
Tentu saja, saya tidak terlalu yakin seperti apa kebenarannya. Setidaknya jika itu benar, kita jadi tahu seperti apa mantan pacarnya Jung Yong Hwa. ^ ^
Source From : Baidu
[SINOPSIS FILM] POSTMAN TO HEAVEN PART 1
00.21 |
Label:
Postman to Heaven
Sebuah bis berjalan dengan kecepatan sedang, didalam bus tersebut terdapat satu orang penumpang laki - laki itu bernama Shin Jae Jun, seorang hantu tukang pos yang bertugas mengantarkan surat ke surga. Dia duduk termenung teringat suatu surat yang berbunyi, "Ibu...apakah kau baik - baik saja? Disana tidak ada masalah, kan? Ibu sudah pergi selama 7 tahun. Sampai saat ini, aku belum bisa percaya kalau ibu sudah tiada. Ternyata sudah lama sekali. Oh iya, aku sudah menikah."
Shin Jae Jun sampai ditengah padang rumput. Disana berdiri sebuah kotak surat, ia pun menghampiri dan membuka isi kotak surat itu seraya mengingat isi surat tadi. "Dan memiliki seorang anak. Aku sangat ingin menunjukannya pada ibu. Ibu...walaupun usiaku sudah bertambah, tapi aku masih merasa belum dewasa. Walaupun aku sudah menikah. Setelah anakku lahir-pun. Rasanya aku masih bermain bersama mainan - mainanku. Karena bagi ibuku, aku selalu menjadi anakknya yang kecil. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ibu, hari ini melalui beranda aku melihat ke bawah, dan melambaikan tangan pada putriku yang musim semi ini berusia satu tahun. dia mengenakan tas sekolah berwarna kuning. Tiba - tiba aku merasa ingin sekali berbicara dengan ibu."
Shin Jae Jun mengeluarkan surat - surat yang terdapat didalam kotak surat, lalu ia mengambil salah satu surat dan membacanya sebuah surat yang tertempel gambar buah chery. Shin Jae Jun membaca surat itu seraya merebahkan tubuhnya ke rerumputan.
"Ibu...bagaimana kabarmu? Bagaimana keadaan disana? Disana...disana...disurga." Surga? gumam Shin Jae Jun menirukan isi surat tadi seraya menunjuk arah langit.
Pengantar Surat ke Surga
Seorang gadis muda berjalan ke tengah padang rumput dan mendekati sebuah kotak surat. Ia pun mengeluarkan sebuah surat dan memasukannya ke dalam kotak surat tersebut. Gadis itu bernama Cho Ha Na. Lalu ia meminum air mineral dibotol yang ia bawa. Ia terus menegak air dibotolnya yang ternyata sudah habis.
Tiba - tiba datang Shin Jae Jun dan menawarkan sisa air mineral yang dibotolnya. Cho Ha Na pun memperhatikan Shin Jae Jun
"Siapa kau?" tanya Cho Ha Na.
"Ini" ucap Shin Jae Jun esreaya menyerahkan botol minumannya.
"Terimakasih" ucap Cho Ha Na seraya mengambil botol yang diulurkan Shin Jae Jun. Cho Ha Na pun menghabiskan sisa air yang ada dibotol itu. "Ahhh" desah Cho Ha Na senang karena akhirnya ia tidak haus lagi.
Shin Jae Jun pun hanya bisa menghela nafas melihat airnya dihabiskan Cho Ha Na. "Berbahaya menerima air dari orang asing" seru Shin Jae Jun seraya menyerahkan botol air yang telah kosong pada Cho Ha Na lalu mendekat ke arah kotak surat.
"Memangnya kau berbahaya?" tanya Cho Ha Na.
"Yang aku maksud bukan aku" jawab Shin Jae Jun.
"Kau ini siapa?" tanya Cho Ha Na lagi.
"Tukang Pos Surga" jawab Shin Jae Jun.
"Hah?" kata Cho Ha Na tak percaya.
"Seorang tukang pos yang bertugas mengantarkan surat ke surga" jelas Shin Jae Jun.
"Ahhh....seperti yang ada dicerita dongeng?"tanya Cho Ha Na seraya tertawa.
"Ini bukan dongeng....Tugasku mengirim suratmu ke surga" jawab Shin Jae Jun lalu ia membuka kotak surat dan mengeluarkan isinya kemudian memasukannya ke dalam tas.Cho Ha Na pun melihat Shin Jae Jun setengah tak percaya.
"Maaf, tunngu sebentar. Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Cho Ha Na seraya memeriksa kotak surat. Namun Shin Jae Jun diam saja.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cho Ha Na lagi.
"Itu" jawab Shin Jae Jun seraya menunjuk jam dikotak surat.
"Apa" tanya Cho Ha Na.
"Lihat waktunya disebelah sana" jelas Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun melihat tempat yang ditunjukan Shin Jae Jun, dikotak itu tertulis angka 17 lalu ia melihat ke arah jam tangannya dan Cho Ha Na pun menyadari sesuatu.
"Aku tahu! Tukang Pos Surga!" serunya seraya memperhatikan Shin Jae Jun.
"Dari tadi kan sudah aku bilang" ujar Shin Jae Jun seraya melangkah pergi.
"Tunggu" tahan Cho Ha Na.
"Belakangan ini di internet ada berita tentang tukang pos tampan yang datang. Dan bilang bahwa ia mengantarkan surat dari....surga" jelas Cho Ha Na. Lalu Cho Ha Na memperhatikan Shin Jae Jun dengan saksama.
"Oh, kau punya kaki. Rupanya, kau bukan hantu ya?" tanya Cho Ha Na.
"Aku malaikat" jawab Shin Jae Jun. Cho Ha Na pun menahan tawa karena tak percaya ucapan Shin Jae Jun. Ia pun tak dapat menahan tawanya.
"Hei, berhentilah mengolok - olokku!" pinta Shin Jae Jun.
"Kalau begitu terbanglah" jawab Cho Ha Na.
"Dari sini ke sana" tunjuk Cho Ha Na untuk membuktikan ucapam Shin Jae Jun.
"Sekarang?" tanya Shin Jae Jun.
"Sekarang" jawab Cho Ha Na.
"Baiklah. Kau tutup dulu matamu" ujar Shin Jae Jun.
"Baik" ucap Cho Ha Na yang didiringi anggukan.
"Tutup sekarang" pinta Shin Jae Jun.
"Sudah kututup" ucap Cho Ha Na lalu mulai menutup matanya.
"Jangan mengintip. Saat hitungan ketiga, buka matamu" ujar Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun mengangguk. Shin Jae Jun mulai menghitung dan melangkah,
"Satu..dua...tiga" hitung Shin Jae Jun lalu berlari secepatnya.
Cho Ha Na yang menyadari ada yang tidak beres segera menengok dan dilihatnya Shi Jae Jun berlari.
"Hei! Hei! Berhenti...Hei!"panggil Cho Ha Na seraya mengejar Shin Jae jun.
Shin Jae Jun terjatuh Cho Ha Na pun berhasil mengejarnya.
Shin Jae Jun dan Cho Ha Na duduk disebuah kedai.
"Banyak surat yang datang. Surat dari orangtua untuk anakknya,Suami yang ditinggalkan istrinya, surat untuk temannya yang sudah meninggal, ibu yang kehilangan putrinya, atau seorang yang kehilangan kekasihnya. Mereka yakin kalau surga itu memang benar - benar ada" jelas Shin Jae Jun. Cho Ha Na pun mendengar dengan seksama sambil mencoret - coret selembar kertas dengan pensilnya.
"Tapi ada satu surat yang jahat. Jika orang itu normal, dia tidak mungkin membuat surat seperti itu" seru Shin Jae Jun. Cho Ha Na pun mendengarkan cerita itu tanpa berkedip.
"Jahat sekali kau, mengapa kau pergi meniggalkan aku. Orang sepertimu memang pantas mati" ujar Shi Jae Jun menirukan bunyi surat itu. Cho Ha Na seperti ingat bunyi surat itu yang tak lain surat yang ditulisnya.
"Dia menulis semua itu semua umpatannya ditujukan ke Surga. Menurutmu apa yang harus kulakukan padanya?" tanya Shin Jae Jun.
Cho Ha Na tertawa lalu berkata, "Orang itu pasti berpikiran sempit", lalu ia meminum kopinya.
"Kau yang mengirim surat itu" seru Shin Jae Jun.
"Siapa bilang?" tanya Cho Ha Na seraya tertawa tak percaya.
"Hari ini kau menggunakan amplop yang sama, amplop bergambar buah ceri merah" jelas Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun berhenti mencoret - coret lembaran kertasnya.
"Karena pikiranmu yang sempit dan kasar itu lah. Aku, seorang hantu, harus turun ke sini untuk membahas tentang surat itu" keluh Shin Jae Jun.
"Apa menurutmu aku separah itu, sampai harus ada hantu yang menegurku?" hardik Cho Ha Na tak mau disalahkan.
"Sejujurnya saja, aku ingin menaruh bom disurat itu. Aku ingin mengirim bom ke surga! Jadi saat dia membuka surat itu. Duarrrr! Dia akan tercabik - cabik" keluh Cho Ha Na. (wow, gimana jadinya surga dibom.wkwkwk)
"Tapi dia sudah meninggal" ucap Shin Jae Jun. Cho Ha Na pun terdiam.
Lalu tiba - tiba datang pelayan yang menambahkan kopi. Cho Ha Na pun menahan pelayan itu saat ia akan pergi. "Dia, segelas kopi...apakah bisa mengambang diudara?" tanya Cho Ha Na pada pelayan.
"Maaf?" ucap pelayan.
"Apakah menurtmu aku ini gila berbicara seorang diri dan memesan dua gelas kopi?" jelas Cho Ha Na.
"Maaf?" ulang pelayan.
"Apa disitu. Apa disitu ada orang?" tanya Cho Ha Na seraya menunjuk ke arah Shin Jae Jun.
"Iya, tentu saja!" jawab pelayan.
"Benarkah?" tanya Cho Ha Na yang masih tak percaya.
"Iya" jawab pelayan.
"Iya" jawab pelayan.
Cho Ha Na melihat kearah Shin Jae Jun dengan sinis lalu mendekat ke arah pelayan dan berbisik, "Orang ini mengaku kalau dirinya itu adalah hantu atau malaikat. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Cho Ha Na.
"Dia pasti sudah gila! Sudah, tinggalkan saja dia" jawab pelayan. Cho Ha Na pun mengangguk lalu pelayan pamit pergi. Cho Ha Na pun tertawa sampai hampir menagis.
"Kau tahu, aku dengar semua itu" ucap Shin Jae Jun.
"Lalu, kau ini apa?" tanya Cho Ha Na. "Ahh! Aku tahu! Kau sengaja ingin membuat orang percaya kalau kau ini tukang pos surga. Kau berjalan - jalan diseputar kotak surat itu, bukan?" lanjut Cho Ha Na.
"Tidak, ini adalah pekerjaan paruh waktukku" jawab Shin Jae Jun.
"Pekerjaan paruh waktu?" tanya Cho Ha Na.
"Sebagai contoh, mengirim surat ke surga" jawab Shin Jae Jun.
"Apa kau benar - benar gila?" tanya Cho Ha Na yang masih tak percaya lalu menutu matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Tida. aku hanya membantu orang yang merasa kehilangan kekasihnya, menurutmu?" tanya Shin Jae Jun.
"Bagaimana caranya? coba lebih baik kau jelaskan" pinta Cho Ha Na.
"Sudah tidak boleh lagi, karena ini adalah rahasia" ucap Shin Jae Jun stengah berbisik. Cho Ha Na pun menghempaskan kepala ke meja.
"Kecuali kau ingin membantuku, aku akan coba membeeritahumu" ucap Shin Jae Jun.
"Apa?" tanya Cho Ha Na.
"Kalau kau bisa, ayo kita lakukan bersama - sama. Aku akan memberimu gajih $20 per jam" jawab Shin Jae Jun.
"$20?" tanya Cho Ha Na.
"Iya" jawab Shin Jae Jun. Cho Ha Na pun tertawa lalu menjawab, "Tidak".
Cho Ha Na berkeliling pertokoan menggunakan sepedanya.
Lalu tiba - tiba berhenti mendadak saat melihat sebuah papan pengumuman pekerjaan. Ia pun senang melihat pengumuman, "Pabrik Kesenian Alibi. Dibutuhkan karyawan berkemampuan tinggi" Cho Ha Na pun melepas papan pengumuman itu lalu meremasnya dan memasukannya ke saku bajunya.
Lalu ia mengintip ke rumah yang memasang pengumuman itu, dari dalam rumah keluar seorang bapak - bapak, tiba - tiba ada kerupuk jatuh, bapak - bapak itu pun memakannya dan melangkah ke dalam, namun langkahnya terhenti saat Cho Ha Na berseru, "Permisi".
"Sebenarnya ini pabrik apa?" tanya Cho Ha Na. Bapak - bapak itu bukannya menjawab malah mengajak masuk Cho Ha Na ke dalam rumahnya.
"Lihat ini! aku membuat ini. Aku sudah membuat benda - benda ini selama 7 tahun. Aku adalah penjual barang - barang ini" jelas bapak - bapak seraya menunjukkan barang - barang yang produksinya. Cho Ha Na pun tertarik pada sebuah TV lalu ia melihat lebih dekat.
Bapak - bapak itu menunjukkan harga -harga suara pada Cho Ha Na, ada suara porno $18, suara bar $30, suara pasar $7, dll. Cho Ha Na pun duduk pada sebuah kursi namun ia terlonjak kaget hingga berdiri saat kursi itu berbunyi.
"Itu suara porno dan ini suara bar" seru bapak pemilik rumah itu seraya menyetel sebuah tape.
"Kau dapat menggunakan suara - suara ini saat kau menelepon, seperti saat kau ingin membohongi pacarmu. Kecurangan, itulah kata yang tempat ini hasilkan" jelas pemilik rumah. Cho Ha Na pun mengangguk.
"Curang" ucap pemilik rumah seraya mempraktekan sebuah pianika yang menghasilkan suara aneh. Cho Ha Na mencoba sebuah kacamata yang ada didepannya.
"Kira - kira berapa gaji kalau menjadi karyawan disini?" tanya Cho Ha Na.
Dan ternyata pemilik rumah itu salah tanggap, Cho Ha Na dikiranya pelanggan, ia pun menghentikan suara pianikanya dan duduk dikursinya dengan kesal.
"Jadi kau bukan pelanggan?" tanya pemilik rumah.
Seperti biasa ditengah padang rumput yang berdiri kotak surat, Shin Jae Jun mengambil surat - surat yang ada didalam kotak. Tiba - tiba Cho Ha Na datang mengagetkannya.
"Apa? Apa kau datang ingin mengirim surat iblis itu lagi?" tanya Shin Jae Jun.
"Bukan, aku sudah tidak mengirimnya lagi. Lagipula percuma, kau hanya akan membuangnya ke tempat sampah" jawab Cho Ha Na.
"Lalu apa?" tanya Shin Jae Jun yang masih sibuk mengeluarkan surat - surat dari kotaknya. Cho Ha Na mengambil sebuah boneka badut.
"Kau sudah memutuskan ingin bekerja denganku?" selidik Shin Jae Jun.
"Tidak mau..." jawab Cho Ha Na seraya tertawa.
"Aku datang untuk menyuapmu, $5000?" Bagaimana kalau begitu?" tanya Cho Ha Na.
"Aku tidak bisa memaafkanmu....aku benar - benar tidak bisa memaafkanmu. Kau bilang kau suka padaku. Apa itu bohong? saat aku mendekati wajahmu. Kau bilang padaku, kau sangat menyukaiku. Kau bilang kau rela jika dilempar ke lubang hitam" seru Shin Jae Jun.
Lalu sebuah surat jatuh, namun Shin Jae Jun malah menemukan sekotak bekal makanan.
"Apa?" tanya Cho Ha Na.
"Ini kotak makan siang. Sushi dan telur gulung untuk kekasihnya" jawab Shin Jae Jun.
"Apa?" tanya Cho Ha Na.
"Ini kotak makan siang. Sushi dan telur gulung untuk kekasihnya" jawab Shin Jae Jun.
Lalu ia membuka surat yang terselip dokatak bekaln itu.
"Seorang ibu yang kehilangan putrinya yang berusia 5 tahun, Dong-ju. Beliau membuat ini untuk anaknya" jelas Shin Jae Jun.
"Saat kau menonggal ibu baru belajar memasak, kau meninggal terlalu cepat, jadi kau belum bisa merasakan enaknya masakan ibu, apakah telur gulung buatan ibu lebih enak dari telur gulung yang dulu?" Shin Jae Jun membacakan isi surat itu. Cho Ha Na pun mendengarkannya seraya memeluk boneka badut.
"Sekarang ibu sudah bisa membuat kimbab tanpa gosong lagi" lanjut Shin Jae Jun. Cho Ha Na pun menangis namun ia menahannya.
"Kau menagis ya?" tanya Shin Jae Jun. Cho Ha Na tidak menjawab dia hanya memalingkan mukanya.
"Ternyata iya. Tapi aku ini hanya tukang pos surga bukan jasa pengantar surga" ujar Shin Jae Jun. Lalu ia membuka kotak bekal makan siang itu.
"Apakah kau ingin memakannya?" tanya Cho Ha Na.
"Kalau disia - siakan sayang kan? Nanti busuk. Aku akan merasa bersalah" jawab Shin Jae Jun.
Cho Ha Na memperhatikan bekal itu dengan penuh perasaan. "Mau coba?" tawar Shin Jae Jun.
"Iya aku mau coba" jawab Cho Ha Na. Shin Jae Jun pun menyuapkan sepotong telur dadar gulung pada Cho Ha Na, Cho Ha Na memakannya dengan hati - hati.
"Enak tidak?" tanya Shin Jae Jun. Cho Ha Na mengangguk.
"Tidak keasinan?" tanya Shin Jae Jun lagi. Cho Ha Na hanya menganggukan kepalanya lagi seraya menahan tangisnya.
"Benarkah? Dong-ju ah" tanya Shin Jae Jun.Refleks Cho Ha Na pun kaget.
"Apa yang kau lakukan tiba - tiba?" tanya Cho Ha Na.
"Dong-ju ah, telur buatan ibumu sangat enak!" teriak Shin Jae Jun lagi. Cho Ha Na pun menangis terisak.
Shin Jae Jun menaruhsetangkai bunga diatas kotak bekal makan untuk Dong-ju.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cho Ha Na.
"Ini balasan dari Dong-ju untuk memberitahu ibunya kalau dia sudah makan" jawab Shin Jae Jun.
"Tapi ini namanya bohong" ucap Cho Ha Na.
"Memang iya, tapi tidak sepenuhnya bohong. Jika dia masih hidup, dia juga pasti akan melakukan ini" jawab Shin Jae Jun diplomatis. Cho Ha Na pun merapikan rangkaian bunga yang ada diatas kotak bekal makanan Dong-ju.
"Kau mau menerima pekerjaan ini?" tanya Shin Jae Jun. Cho Ha Na terdiam sesaat berpikir sebentar lalu ia berkata, "Aku boleh bertanya sesuatu?".
"Iya" jawab Shin Jae Jun seraya mengangguk.
"Apa benar gajinnya $20 per jam?" tanya Cho Ha Na. Shin Jae Jun bepikir sebentar lalu menjawab, "Iya".
Cho Ha Na pun tersenyum lalu ia berdiri memperkenalkan diri, "Namaku Cho Ha Na". Senang bertemu denganmu".
"Aku Shin Jae Jun. Senang bertemu denganmu" balas Shin Jae Jun.
Disebuah rumah hiduplah seorang kakek tua dan putranya yang telah ditinggalkan istrinya yang meninggal. Kakek tua itu bernama Choi Geun Bae.
"Ayah, apakah ayah sudah memakan obatnya?" tanya menantu kakek Choi Geun Bae.
"Ayah akan memakannya sekarang" jawab kakek seraya menyiapkan obatnya.
Namun tiba - tiba anaknya tadi membersihkan ruangan dengan vacuum cleaner
"Ayah, bisa minggir sebentar?" tanya menantu kakek Choi. Kakek Choi pun batal minum obatnya, ia berdiri dari duduknya dan bersiap berpindah tempat namun selalu bebarengan dengan menantunya yang membersihkan ruangan itu. Akhirnya kakek Choi pun duduk berputar 90 derajat dari tempat awalnya namun menantunya membersihkan tempat itu juga, kakek Choi pun berpindah kembali.
"Ayah, bukan kesana" ujar menantu kakek Choi. Lalu ia duduk disebelah ayahnya.
"Aku tahu ini akan terdengar aneh, tapi sudah 3 bulan ibu meninggal" tegur menantu kakek Choi.
"Iya" jawab kakek Choi datar.
"Ayah sangat mengkhawatirkan, jika terus bersedih" ucap menantu kakek Choi. Kakek Choi pun hanya mengangguk. Tiba - tiba menantu kakek Choi teringat sesuatu.
"Oh iya! tolong hari ini jangan terlambat. Suamiku hari ini datang, mari kita makan malam bersama" pinta menantu kakek Choi.
"Baiklah" jawab kakek Choi.
"Dia sangat mengkhawatirkan ayah, karena ayah kelihatan begitu tertekan" ujar menantu kakek Choi
"Sebenarnya dia sangat memperhatikan ayah kandungnya yang berusia 80 tahun. Ayah keluar sebentar untuk bermain catur, nanti ayah akan pulang saat makan malam" ujar kakek Choi.
Kakek Choi tersenyum dan berhenti sebentar saat melihat foto almarhum istrinya. Lalu kakek Choi bersiap pergi, dompet...dompet" gumamnya.
"Yeobo kenapa kau pergi duluan meninggalkan aku? Aku bahkan belum siap untuk ini. Setelah kau meninggal, segala hasratku untuk hidup bagai hilang semua" keluh kakek Choi dalam hati.
Kakek Choi sampai disebuah taman, ia pun duduk bermain catur bersama temannya. Kakek Choi mengingat istrinya. "Yeobo, aku ingin jujur padamu, saat aku membersihkan barangmu. Aku menemukan benda yang kurang menyenangkan hatiku. Aku menemukan sepucuk surat cinta dari seoarang pria yang tidak kukenal. Mungkinkah, kau membagi hatimu dengannya? Mungkinkah kau mengandung anak dari pria ini?" pikirnya.
Kakek Choi dan anak laki - lakinya makan bersama. Kakek Choi terus memperhatikan putranya tanpa berkedip, putranya pun merasa tidak nyaman diperhatikan ayahnya seperti itu.
"Ayah, ada apa?" tanya putra kakek Choi.
"Hah?" jawab kakek Choi tersadar dari lamunannya, kakek Choi pun menjatuhkan sendoknya, putranya pun membantu mengambilkannya.
Putra kakek Choi pun menyerahkan sendok yang diambilnya pada ayahnya.
"Aku jadi tidak bisa tidur, saat aku memikirkan tentang semua ini" lanjut kakek yang masih berkutat dengan pikirannya bahwa istrinya selingkuh.
Cho Ha Na mulai membantu pekerjaan Shin Jae Jun, ia dan Shin Jae Jun membahas sebuah surat di coffee shop. Cho Ha Na menutupi wajahnya dengan kertas surat.
"Hei! kau yang disana" tegur Shin Jae Jun seraya melambai - lambaikan tangannya.
Cho Ha Na pun membuka sedikit kertas surat yang menutupi wajahnya yang sedang sendu membaca surat tersebut. Cho Ha Na menahan tangis setelah membaca surat itu.
"Surat ini berasal dari...seorang perempuan. Setiap kali hujan, dia selalu khawatir adiknya kesepian di surga" jelas Cho Ha Na yang terbawa suasana isi syrat itu. Ia pun memandang langit dengan sedih.
"Ha Na, adik perempuan itu?" tanya Shin Jae Jun.
"Ini surat dari seorang kakak perempuan untuk adiknya, Adik laki - laki yang berusia 10 tahun. Lihat, bahkan didalamnya dimasukan kartu permainan ini, "jawab Cho Ha Na, seraya menunjukan segepok kartu permainan yang ada dalam surat itu.
"Saat masih hidup , adiknya sangat menginginkan kartu - kartu ini" lanjut Cho Ha Na.
Shin Jae Jun pu merebut surat yang ada ditangan Cho Ha Na dan berkata, "Jangan menangis, kau tidak boleh menangis! Bagaimana kalau ada surat yang tidak pantas, apakah kita tetap mengirimnya?" tanya Shin Jae Jun lalu memasukan kembali surat yang diambil dari tangan Cho Ha Na.
Cho Ha Na pun mendesah kesal. "Ngomong - ngomong apakah kita bisa disebut 'malaikat'?" Kau pernah bilang kalau ini adalah pekerjaan suci. Lalu kenapa kita minum di cafe seperti ini?" protes Cho Ha Na.
"Itu karena...kau tahu kan. Terkadang aku ingin keluar dari kota ini" jawab Shin Jae Jun.
"Kota. Percuma kau berlagak sok imut seperti itu" ejek Cho Ha Na.
"Baiklah. Lain kali aku akan mengajakmu ke cafe yang lebih bonafit" seru Shin Jae Jun. Ia pun tertawa kecil saat menyadari kata - katanya, "Tapi jangan menganggap ini sebagai kencan" seru Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun tertawa, "Kau jangan sampai suka padaku. Soalnya kau ini bukan manusia, tetapi hantu" balas Cho Ha Na.
"Aku kan sudah bilang, aku ini bukan hantu" hardik Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun diam, lalu ia memperhatikan Shin Jae Jun dengan seksama. Merasa dipandang seperti itu Shin Jae Jun jadi sedikit agak salah tingkah.
"Ngomong - ngomong, ini adalah tugas pertamamu" ucap Shin Jae Jun mencairkan suasana seraya menyerahkan sebuah amplop surat. Cho Ha Na mengambil surat yang diulurkan Shin Jae Jun.
"Kalau kau mau mendapat gaji, bekerjalah dengan benar" seru Shin Jae Jun.
"Aku pasti akan mengerjakannya dengan baik.."ucap Cho Ha Na lalu membuka isi surat itu.
Kakek Choi menyendiri sambil berdiri di taman. Di taman itu juga ada Cho Ha Na yang mulai menjalankan misinya, ia bermain catur igo bersama seorang anak kecil. Ia pun berteriak saat ia tidak dapat memainkan permainan itu.
"Kenapa aku tidak bisa memainkan ini" keluh Cho Ha Na.
"Ditinggal dijalanan ya?" ujar salah seorang kakek yang juga bermain disebelah Cho Ha Na saat mendengar teriakan Cho Ha Na.
"Kelihatannya sih begitu. Cepat jalan! sekarang giliranmu seru kakek lain menanggapi.
"Oh ya, maaf" ucap kakek tadi saat asyik memperhatikan tingkah Cho Ha Na.
Cho Ha Na yang mengulum pemen lolipop memperhatikan kakek Choi yang diam saja termenung.
Menantu kakek Choi keluar rumah, tiba - tiba Cho Ha Na datang dan menahan kakek Choi.
"Permisi" sapa Cho Ha Na.
"Ya Tuhan!" gumam menantu kakek Choi kaget.
"Kita bisa bicara sebentar?" tanya Cho Ha Na.
Menantu kakek Choi pun menunjuk dirinya sendiri, Cho Ha Na pun mengangguk.
Cho Ha Na dan menantu kakek Choi duduk di kursi panjang sebuah taman.
"Jadi, ini tentang ayahku ya?" tanya menantu kakek Choi.
"Iya, ayah mertuamu. Beliau sedang menderita" jawab Cho Ha Na.
"Apa maksudmu?" tanya menantu kakek Choi tak mengerti.
"Ibu mertuamu...Beliau..." jawab Cho Ha Na namun terhenti bingung mau mulai darimana, lalu ia berpikir sebentar.
"Kelihatannya beliau memiliki pria idaman lain" lanjut Cho Ha Na akhirnya.
"Apa?" ucap menantu kakek Choi kaget.
"Ada beberapa surat cinta di barang peninggalannya" jelas Cho Ha Na.
"Masa..." ucap menantu kakek Choi tak percaya.
"Karena saat ini hanya ada kita berdua...anak dari ayah mertuamu adalah suamimu. Tapi ayah mertuamu ragu apakah dia adalah anak kandungnya" jelas Cho Ha Na.
""Ya Tuhan..." gumam menatu kakek Choi.
"Ada apa?" tanya Cho Ha Na.
"Aku juga meragukan hal itu" gumam menatu kakek Choi berbisik pada Cho Ha Na. (gubraks,gaswatt!!!)
"Kenapa?" tanya Cho Ha Na. Menantu kakek Choi pun mengambil HPnya dan memperlihatkan foto suaminya.
" Lihat ini" ucap menantu kakek Choi seraya menyerahkan HPnya yang terdapat foto suaminya dan dirinya. Cho Ha Na pun memperhatikan foto di HP itu.
"Ini suamuku, tampan bukan?" tanya menantu kakek Choi. Cho Ha Na pun tertawa kecil.
"Iya, tampan" jawab Cho Ha Na. "Irinya aku" lanjut Cho Ha Na seraya memperhatikan foto di Hp itu.
Menantu kakek Choi pun merebut Hpnya dari tangan Cho Ha Na dan memasukannya ke dalam tas.
"Tapi ayah mertuaku...beliau tidak seperti itu" gumam menantu kakek Choi.
"Ah kalau begitu ibu mertuamu pasti cantik" jawab Cho Ha Na.
"Tidak juga. Beliau biasa saja" ucap menantu kakek Choi.
"Ah, lalu...pasti pria idaman lain ibu mertuamu orangnya sangat tampan dan suamimu mengikuti wajahnya" pikir Cho Ha Na.
"Baguslah. Ibu mertuaku memang hebat" ujar menantu kakek Choi.
Cho Ha Na pun tertawa kecil agak ragu.
"Maafkan aku" ucap menantu kakek Choi.
"Tidak apa - apa" jawab Cho Ha Na. "Tapi apakah menurutmu, suamimu akan menyadarinya?" tanya Cho Ha Na.
"Tidak mungkin! Baginya ibunya adalah seorang malaikat. Kalau aku mengatakan ibunya telah mempermainkan ayahnya. Dan bilang bahwa ayahnya bukan ayah kandungnya?" tanya menatu kakek choi. "Dia pastia akan jawab..." jawab menantu kakek Choi terputus.
"Benar. Bebar sekali mengatakannya sekarang juga percuma tidak akan ada yang bahagia. "Benarkah?" potong Cho Ha Na. Menantu kakek Choi pun mengangguk.
"Jadi, aku telah memikirkannya. Lalu bagaimana kalau kalian melakukan tes DNA antara suamimu dan ayahnya" kata Cho Ha Na memberikan usul."Lalu bagaimana kalau hasilnya memang bukan anak kandungnya?" tanya menantu kakek Choi.
"Kalau itu, tidak usah ragu" jawab Cho Ha Na mantap, lalu ia tertawa.
Cho Ha Na mendatangi tempat pemilik pembuat macam - macam suara. Pemilik rumah yang sedang mendengarkan suara porno pun terlonjak saat melihat Cho Ha Na masuk.
"Ada yang bisa a...." seru pemilik rumah. "Ya Tuhan..." gumamnya saat ia menyadari bahwa yang datang Cho Ha Na.
"Hari ini aku kesini untuk menjaid pembeli" ujar Cho Ha Na. Sepertinya Cho Ha Na meminta tolong pada orang itu untuk memalsukan tes DNA kakek Choi dan putranya.
"Tapi, setelah memalsukan tes DNA ini. Apa kelanjutannya?" tanya Cho Ha Na.
"Pertama - tama, kita membuat surat ini ditujukan atas nama anaknya, buatlah surat yang meyakinkan" jawab pemilik rumah itu seraya menyiapkan surat DNAnya.
Cho Ha Na dan Shin Jae Jun membahas masalah mengenai surat DNA kakek Choi dan putranya.
"Lalu" tanya Cho Ha Na.
"Kita harus memastikannya si Ayah membacanya" jawab Shin Jae Jun.
"Bukannya nanti beliau tanya pada anaknya, jadi kau ragu juga ya?" tanya Cho Ha Na.
"Tidak mungkin. Beliau tidak akan mengatakan hal itu. Karena setiap pria melakukan hal yang sama. Itu adalah dasar rencana kita" jawab Shin Jae Jun menjelaskan.
"Eh, aku tidak mengerti" jawab Cho Ha Na.
"Harusnya kau mengerti bodoh" ejek Shin Jae Jun.
"Apa? Berdirilah menghadap sudut ruangan ini" seru Cho Ha Na.
"Ah, kenapa?" tanya Shin Jae Jun.
"Cepat lakukan saja" perintah Cho Ha Na.
"Aku tidak mau" ucap Shin Jae Jun.
"Apa?" bentak Cho Ha Na seraya menggebrak meja.
"Diamlah" ucap Shin Jae Jun.
Shin Jae Jun menceritakan idenya.
"Dengarkan ini" pinta Shin Jae Jun.
"Pertama, sebelum ayahnya kembali ke rumah. Taruh hasil tes DNA itu di kotak suratnya" saran Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun mensimulasikan, ia menaruh hasil tes DNA pada kotak surat rumah kakek Choi, ia pun segera bersembunyi saat melihat kakek Choi sampai di rumah. Kakek Choi pun membuka isi kotak surat saat melihat ada sebuah surat terjulur. Kakek pun mengambil hasil tes DNA dan surat lainnya.
"Beliau akan melihat hasil tes itu dan beliau pasti akan terkejut. Beliau akan berpikir, "Ah...dia pasti meragukannya juga. Dan beliau sadar kalau anaknya telah melihat surat cinta itu juga. Beliau pasti akan tambah curiga dan terpaksa membuka surat itu. Setelah melihat surat itu, beliau akan lega. Beliau akan menaruh kembali surat tes DNA itu dan bersikap seolah tidak ada apa - apa.
"Wow. Hebat" gumam Cho Ha Na mendengar penjelasan Shin Jae Jun. "Kau pintar sekali" pujinya.
Shin Jae Jun pun tersenyum bangga.
Cho Ha Na dan menantu kakek Choi pun mempraktekkan ide Shin Jae Jun. Mereka menaruh hasil tes DNA di kotak surat rumah kakek Choi.
Menantu kakek Choi dan Cho Ha Na naik ke atas tiang listrik dengan tangga untuk mengawasinya. Kakek Choi pun sudah pulang ke rumah.
"Dia datang...dia datang" gumam menantu kakek Choi seraya semakin merapat pada tiang listrik (fighting....fighting...uni. Hahaha).
Saat mau masuk ke dalam rumah, kakek Choi pun berhenti sebentar dan menghampiri kotak surat. Ia pun merogoh - rogoh isi kotak surat. Menantu kakek Choi dan Cho Ha Na pun was - was, namun ternyata kakek Choi bukannya mengambil surat tapi mengambil yakult (Hahaha, gimana ini haraboji). Kakek Choi pun meminumnya sampai habis lalu masuk ke dalam rumah.
Menantu kakek Choi dan Cho Ha Na pun hanya bisa menghela nafas. Karena hilang keseimbangan Cho Ha Na pu jatuh.
"Bodoh" gumam Cho Ha Na kesal dengan hasil ide Shin Jae Jun.
"Aku sudah melakukan apa yang kau katakan. Tapi lihat apa yang terjadi, sia - sia semuanya" protes Cho Ha Na kesal.
"Ya Tuhan, kau ini mengganggu sekali" ucap Shin Jae Jun menaggapi dengan enteng.
"Apa?" hardik Cho Ha Na.
"Baiklah. Aku punya ide yang lebih baik" ucap Shin Jae Jun.
"Benarkah?" tanya Cho Ha Na tak percaya.
"Kali ini pasti ide yang hebat" tuntut Cho Ha Na, Shin Jae Jun pun tersenyum.
Pagi hari kakek Choi sudah minum yakult tiba - tiba Shin Jae Jun datang dengan menyamar sebagai tukang pos.
"Permisi, apakah anda tinggal di rumah ini?" tanya Shin Jae Jun.
"Iya" jawab kakek Choi.
"Ada kiriman untuk anda. Iya, untuk Choi Gun Woo. Apakah itu nama bapak" ujar Shin Jae Jun seraya mengecek surat yang dibawanya.
"Itu nama anakku" jawab kakek Choi.
" Oh. kalau begitu bisa bapak beri label disini?" tanya Shin Jae Jun seraya menunjukkan tempatnya.
Kakek pun mengeceknya lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Namun Shin Jae Jun menahannya, Anda bisa tanda tangani saja" serunya seraya menyodorkan sebuah pena.
Kakek Choi pun menghentikan langkahnya lalu menandatangani tanda terima suratnya. Shin Jae Jun pun menyerahkan hasil test DNAnya pada kakek. Kakek pun menerimanya.
"Tolong berikan ini padanya" pinta Shin Jae Jun.
"Baiklah" jawab kakek Choi. Shin Jae Jun pun bergegas pergi dan kakek memperhatikan surat DNA itu.
Dengan ragu kakek berniat membuka isi hasil DNA tersebut, ia mencoba menerawang isinya dengan cahaya sianar. Lalu ia mencoba membuka amplopnya dengan cara menaruh amplop diatas rebusan air ceret, lem yang menempel pun mengelupas. Kakek Choi berhasil membuka amplop hasil test DNA itu.
Kakek Choi pun tersenyum senang saat melihat hasil test DNA itu bahwa 99.9999% Gun Woo itu adalah anaknya. Ternyata Cho Ha Na dan menantu kakek Choi mengintip kakek Choi dari balik jendela kaca, mereka berdua akhirnya lega.
Shin Jae Jun bersama seorang bapak mengobrol tidak jelas.
"Belum?" gumam Shin Jae Jun.
"Belum, belum" balas bapak itu.
"Belum, belum?" tanya Shin Jae Jun.
"Belum, belum, belum" jawab bapak itu.
"Belum, belum...belum" gumam Shin Jae Jun lalu ia berpikir sebentar seperti mengingat sesuatu.
"Belum?" pikir Shin Jae Jun. Bapak itu pun menoleh ke arah Shin Jae Jun.
Cho Ha Na membuka sebuah surat.
"Oh, orang ini, Yongshik vokalis CLIMATE!" gumam Cho Ha Na membuka amplopnya.
"Siapa itu?" tanya Shin Jae Jun.
"Kau tidak tahu 'CLIMATE'? mereka terkenal!" jawab Cho Ha Na. Lalu ia menemukan sebuah surat.
"Ya Tuhan, bahkan ada suratnya. Bagaimana ya? aku sangat menyukainya" gumam Cho Ha Na tak percaya.
"Kau menyukainya?" tanya Shin Jae Jun.
"Dia keren sekali" jawab Cho Ha Na.
"Benarkah?" tanya Shin Jae Jun tak percaya.
"Apa kau...cemburu?" selidik Cho Ha Na.
"Kau ini bicara apa?" tanya Shin Jae Jun agak sedikit salah tingkah.
"Smakin kelihatan cemburunya" ledek Cho Ha Na.
"Kenapa aku harus cemburu?" ucap Shin Jae Jun balik tanya.
"Tidak, tidak apa - apa" jawab Cho Ha Na cuek, lalu ia memulai membaca isi surat itu. Yang berbunyi, "Ayah tercinta, ayah ini aku. Ini pertama kalinya aku menulis surat seperti ini untukmu". Tangis Cho Ha Na pun mulai pecah namun ia menahannya dan melanjutkan cerita tentang Yongshik.
Cho Ha Na pun mulai menjelaskan siapa Yongshik itu pada Shin Jae Jun.
"Yongshik, vokalis dari band terkenal 'CLIMATE'. Setelah ibunya meninggal ia tinggal bersama ayahnya saja. Dan setelah melakukan debut, ayahnya juga harus meninggalkannya karena penyakit. Surat ini ditujukan untuk ayahnya. Ayahnya adalah seorang pejabat terkenal, awalnya beliau sangat menentang keinginan anaknya. Karena sikap itulah, dia menganggap ayahnya tidak pernah mengerti dan menerimanya. Aku akan menyamar sebagai suster yang merawat ayahnya didetik - detik terakhir beliau dan membawakannya buku harian palsu ayahnya" ucap Cho Ha Na.
Cho Ha Na telah menyamar sebagai suster dan membawakan buku harian palsu ayah Yongshik. Yongshik pun membaca dan membuka - buka buku harian itu.
"Benarkah ayahku yang menulis ini?" tanya Yongshik tak percaya.
"Iya" jawab Cho Ha Na seraya mengangguk.
"Terima kasih banyak" ucap Yongshik.
"Tidak perlu sungkan" ucap Cho Ha Na.
Yongshik pun bergegas pergi namun Cho Ha Na menahannya.
"Uh, permisi. Dulu saat di rumah sakit, ayahmu membawa CDmu dan bilang kalau ini adalah CD anaknya" jelas Cho Ha Na.
"Ah" gumam Yongshik.
""Lihat, ini" ucap Cho Ha Na seraya mencari CD itu dalam tasnya. Lalu ia menyerahkan kepingan CD pada Yongshik.
"Aapakah boleh...bolehkah aku meminta tanda tanganmu?" tanya Cho Ha Na seraya menyerahkan sebuah spidol.
"Tentu" jawab Yongshik seraya menerima spidol itu dan mulai menandatangani CD yang diberikan Cho Ha Na. Cho Ha Na pun tidak dapat menyembunyikan kegembiraanya.
Tiba - tiba ada panggilan dari staf untuk bersiap naik panggung. Yongshik pun mengembalikan kepingan CD dan spidol yang sudah ditandatanganinya. Cho Ha Na pun mengucapkan terima kasih.
'Terima kasih karena telah memberitahuku" ucap Yongshik lalu bergegas pergi bergabung dengan teman band lainnya bersiap konser.
Cho Ha Na melihat penampilan Yongshik di panggung. Ia sangat gembira.
"Untuk sementara, aku merasa telah melakukan hal baik yang seharusnya aku lakukan. Apakah aku akan memenangkan lotto?" pikir Cho Ha Na yang tenggelam dalam penampilan performance band 'CLIMATE'.
Cho Ha Na mengejar Shin Jae Jun di padang rumput tempat kotak ssurat ke surga.
"Kau sadar, mereka mudah sekali percaya" seru Cho Ha Na.
"Siapa?" tanya Shin Jae Jun.
"Yongshik dan bahkan ayah mertua itu" jawab Cho Ha Na.
"Alasannya karena itulah yang mereka percayai. Mereka akan merasa nyaman ketika mereka mendapat apa yang sesuai harapannya" ujar Shin Jae Jun.
"Oh, benar juga" gumam Cho Ha Na.
Tiba - tiba Shin Jae Jun menghentikan langkahnya dan menghentikan langkah Cho Ha Na.
"Hei! ada orang yang datang ke kotak surat itu" ujar Shin Jae Jun. Lalu dilihatnya seorang wanita dan anak kecil berjalan mendekati kotak surat.
"Sembunyi" saran Shin Jae Jun. "Dimana?" tanya Cho Ha Na yang tak melihat tempat persembunyian di padang rumput itu.
"Kalau begitu..." pikir Shin Jae Jun seraya mencoba mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Ternyata ia mengeluarkan sebuah bola kasti, "Kita berpura - pura saja menjadi sepasang kekasih yang sedang bermain disini" saran Shin Jae Jun.
"Apa?" seru Cho Ha Na tak percaya.
'Sudah, berpura - pura saja" ucap Shin Jae Jun lalu memasukan kembali bolanya ke dalam tasnya.
"Kau mendapatkan benda itu darimana?" tanya Cho Ha Na. Shin Jae Jun pu bersiap memulai bermain berpura - pura.
"Jangan membuang - buang waktu. Mereka datang" ujar Shin Jae Jun.
"Apa?" gumam Cho Ha Na, yang mau tak mau harus menerima saran Shin Jae Jun.
"Bersiaplah!" seru Shin Jae Jun, lalu mereka berdua siap main tangkap bola. Shin Jae Jun melempar bolanya namun bola itu tidak tertangkap malah melesat jauh.
"Benarkah, kau benar - benar mau melakukan ini?" tanya Cho Ha Na pada Shin Jae Jun kesal.
Cho Ha Na pun berlari mencari bola kasti tadi, ia pun berseberangan dengan seorang wanita dan anak kecil yang memasukan suratnya ke dalam kotak surat. Saat wanita itu selesai berbalik pulang ia berpapasan dengan Cho Ha Na, Cho Ha Na seperti mengingat wajah wanita itu.
"Apa, ada apa?' tanya Shin Jae Jun yang melihat Cho Ha Na terus memperhatikan wanita tadi.
"Aku menegnalnya" jawab Cho Ha Na.
"Siapa?" tanya Shin Jae Jun.
"Dia, dia adalah mantannya pacarku yang terserang penyakit itu" jawab Cho Ha Na menunjuk wanita tadi.
"Apa...lalu siapa anak itu?" tanya Shin Jae Jun.
"Mungkin itu anaknya" jawab Cho Ha Na.
"Jadi itu artinya...dia bukan pacarnya, dia adalah istrinya" ucap Shin Jae Jun.
"Dasar" Ucap Cho Ha Na seraya meninju perut Shin Jae Jun hingga terjatuh.
'Ah, sakit" protes Shin Jae Jun.

Cho Ha Na berdiam diri seraya merebahkan dirinya di padang rumput. Shi Jae Jun pun menemaninya seraya melihat sebuah surat.
"Surga. Apakah benar - benar ada? Surga?" tanya Cho Ha Na seraya menulurkan tangannya ke atas.
"Dimanakah letaknya?" tanya Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun bergegas bangun, "Aku tidak suka ini! Jangan kira karena dia sudah meninggal ini sudah bukan masalah lagi. Walaupun dia sudah meninggal tetap saja dia pembohong. Dan kalau aku tidak bisa memaafkannya artinya aku tidak akan memaafkannya. Dan cinta tetaplah cinta" protes Cho Ha Na kesal.
"Katakanlah...,katakanlah padanya" ujar Shin Jae Jun memberi sarn. Cho Ha Na pun melihat ke arah Shin Jae Jun.
"Bukan yang ada di surat itu, tapi yang ingin kau katakan sekarang." lanjut Shin Jae Jun seraya menunjuk ke atas."
Sambil menahan amarah dan kesalnya Cho Ha Na berteriak, "Dasar bodoh! kenapa kau meninggal? kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau sudah menikah?" tangis Cho Ha Na pun pecah. Shin Jae Jun mendekat ke arah Cho Ha Na mungkin bermaksud memberikan bahunya agar Cho Ha Na bisa bersandar, tapi Cho Ha Na diam saja.
"Kenapa kau?" tanya Cho Ha Na.
"Kau menangis ya?" ucap Shin Jae Jun balik bertanya.
"Aku tahu. Aku memang sedang menangis." jawab Cho Ha Na.
"Kau tidak apa - apa? Kau tidak keberatan kalau aku melihatmu menangis?" tanya Shin Jae Jun.
"Sebenarnya keberatan, tapi ya sudahlah karena kau ini yang melihatnya" jawab Cho Ha Na. Shin Jae Jun oun terdiam.
"Aku sudah merasa lega. Aku merasa seperti sedang melihat laut dan berteriak, Dasar bodoh! Sama seperti peran yang ada di film." lanjut Cho Ha Na ceria.
"Ha Na. Sekarang.....sekarang.....aku ingin ciuman" ucap Shin Jae Jun. Cho Ha Na diam memandang Shin Jae Jun aneh.
"Lupakanlah...." Lanjut Shin Jae Jun salah tingkah.
"Hebat juga perkataanmu. Kau hebat dalam mengatakan apapun. Aku juga merasa, kalau aku juga bisa melakukannya." ujar Cho Ha Na. Namun Shin Jae Jun hanya terdiam.
"Mungkin lebih baik kita melupakannya saja" lanjut Cho Ha Na.
"Sudah lupakan saja" ucap Shin Jae Jun. Suasana pun menjadi canggung, Cho Ha Na pun berdiri dari duduknya.
"Kau bernafsu, bukan?" tanya Cho Ha Na.
"Bukannya kau yang bernafsu" jawab Shin Jae Jun seraya berdidri dari duduknya.
"Kalau begitu, aku tidak mau mendengarkannya lagi" ucap Cho Ha Na.
"Oh, benarkah?" tanya Shin Jae Jun meragukannya.
"Benar." Jawab Cho Ha Na.
"Kau tahu, aku masih ingin mendengarkannya." Ucap Shin Jae Jun.
"Apa?" tanya Cho Ha Na.
"Mulai sekarang, aku ingin mendengarkan kisahmu dimasa yang mendatang." Jawab Shin Jae Jun. Lalu tiba - tiba terdengar isak tangis Cho Ha Na. "Kau menangis ya?" tanya Shin Jae Jun.
"Tidak pernah ada yang mau mendengarkanku. Bahkan dia, orang yang sudah meninggal. Dia tidak pernah mendengarkanku sama sekali. Dia hanya..., aku rasa dia hanya menganggapku tidak berarti. Aku tahu itu dari awal. Dia tidak pernah memperhatikan perasaanku. Bahkan ketika aku menangis. Dia tidak pernah berada disampingku. Tidak pernah sekalipun. Dia tidak pernah berada disisiku." Jawab Cho Ha Na sedih. Shin Jae Jun mendengarkan curhatan Cho Ha Na dengan seksama.
'Kau tahu, kalau begitu. Bagaimana kalau disisiku?" tanya Shin Jae Jun tiba - tiba. Cho Ha Na pun memandang ke arah Shin Jae Jun tak percaya. Shin Jae Jun mendekat ke arah Cho Ha Na dan mencium bibir Cho Ha Na dengan lembut.
Cho Ha Na pulang naik bus bersama Shin Jae Jun. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing - masing. Cho Ha Na sibuk dengan permen lolipopnya sambil melihat pemandangan dari kaca bus. "Hei.., pekerjaan ini" tanya Cho Ha Na tiba - tiba memecah keheningan. Shin Jae Jun menjawab dengan deheman.
"Nantinya...akan berakhir kan?" lanjut Cho Ha Na.
"Pasti." Jawab Shin Jae Jun.
"Kapan?" tanya Cho Ha Na.
"Saat kita tertangkap oleh orang - orang yang menulis surat itu, memeriksanya. Kemudian mengacaukan segalanya. Aku pasti akan diberhentikan." Jawab Shin Jae Jun. Cho Ha Na diam berpikir.
"Diberhentikan?" tanya Cho Ha Na.
"Memangnya kau tidak mengerti. Artinya kau dipecat." Jawab Shin Jae Jun.
"Aku tahu kok. Aku tahu artinya." Ujar Cho Ha Na. Suasana pun jadi canggung kembali.
Sopir bus pun menengok ke belakang.
"Aku..., Hei. Kau tahu kita sekarang dimana?" tanya Cho Ha Na.
"Apa maksudmu?" ucap Shin Jae Jun balik bertanya.
Tiba - tiba supir bus menhentikan laju busnya.
"Ayo!" ajak Shin Jae Jun. Mereka berdua pun turun dari bus.
Ternyata mereka turun dipesisiran pantai. Cho Ha Na berlari gembira, "Cepat" serunya pada Shin Jae Jun.
Namun Shin Jae Jun masih berjalan dengan santai. "Cepat" seru Cho Ha Na kembali, lalu ia berjalan ke belakang menarik tangan Shin Jae Jun agar berlari. Mereka berdua pun berlari dan akhirnya mereka sampai di mercusuar pantai.(Jadi ingat waktu Kim Tae Hee nunggu Lee Byung Hoon dimercusuar yang sama).
"Itu laut." Teriak Cho Ha Na, lalu ia berlari menyusuri mercusuar dan berdiri disamping Shin Jae Jun.
"Indah sekali." Gumam Co Ha Na.
"Mulai sekarang tempat ini akan menjadi tempat kerja kita." Ucap Shin Jae Jun.
"Apa?" tanya Cho Ha Na.
"Bagaimana? Kau bilang, tidak suka suasana kafe yang ada ditengah kota." Jawab Shin Jae Jun. Cho Ha Na beretriak kegirangan ia pun mengitari Shin Jae Jun.
Di sebuah kafe, Shin Jae Jun memperhatikan sebuah surat, ia mencoba mengambil sesuatu (gelas) tapi ternyata ia tak dapat meraihnya.
"Permisi, permisi aku ingin memesan." Serunya pada pelayan. Namun tidak ada pelayan yang menaggapinya.
"Sebelah sini." Serunya lagi namun masih tidak ada tanggapan dari pelayan. Pelayan malah sibuk melayani pelanggan lain.
"Aku ingin memesan. Permisi, aku ingin memesan." Seru Shin Jae Jun berulang - ulang namun seperti tidak ada pelayan yang mendengar seruannya.
"Aku bilang, aku ingin memesan." Serunya dengan pasrah, sepertinya ia menyadari orang - orang disekitarnya sudah tak dapat melihatnya lagi.
Shin Jae Jun menemui kakek Lee Moon Gyo, kita panggil kakek Lee saja.
"Kapan kau datang?" tanya kakek Lee saat menoleh dilihatnya Shin Jae Jun berdiam diri.
"Kau bisa melihatku?" tanya Shin Jae Jun.
"Maaf? Kau mau mnium." Ucap kakek Lee lalu menghampiri Shin Jae Jun.
"Kopi hitam saja, tolong." Ucap Shin Jae Jun.
"Tentu." jawab kakek Lee.
"Maaf? mengganggu. Boleh aku lihat?" tanya Shin Jae Jun.
'Silahkan. Aku akan buatkan kopinya dulu." Jawab kakek Lee.
"Terimakasih." Ucap Shin Jae Junl.
Silahkan tunggu lima menit lagi." Lanjut kakek Lee lalu bergegas membuat kopi.
"Baiklah." Ucap Shin Jae Jun. Lalu ia melihat - lihta sekeliling ruangan itu.
"Oh, itu tidak untuk dijual. Kau tidak boleh melihat yang iru." Ucap kakek Lee saat melihatShin Jae Jun melihat sebuah alnum foto.
"Oh, maafkan aku." Ucap Shin Jae Jun mohon maaf.
"Aku akan lebih hati - hati." Ucap Shin Jae Jun lalu kembali membuat kopi.
Shin Jae Jun duduk berdua dengan kakek Lee, ia melihat - lihat album foto yang berisi foto - foto awan saja.
"Hanya ada gambar awan." Ucap Shin Jae Jun. Kakek Lee tersenyum.
"Iya, itu memang kumpulan foto awan. Aku menghabiskan hidupku untuk mengambil semua gambar itu." Jawab kakek Lee.
Memangnya sejak kapan kau mengambil gambar - gambar ini?" tanya Shin Je Jun.
"Aku rasa, sejak 7-8 tahun lalu." Pikir kakek Lee.
"Maaf. Bodoh sekali pertanyaanku ini." Ucap Shin Jae Jun.
"Tidak juga. Sebenarnya ini adalah hobi anakku, dia yang senang sekali dengan gambar - gambar itu. Anakku sudah meninggal. Aku rasa, aku hanya melanjutkan hobinya saja. Kalau dibayangkan memang lucu sekali." Jelas kakek Lee. Shin Jae Jun pun terdiam.
Shin Jae Jun datang ke kotak surat yang ada di tengah padang rumput. Ia membuka kotak surat namun di dalam kotak surat itu kosong.
Shin Jae Jun pun mengunjungi markas mercusuar. Disana sudah ada Cho Ha Na berdiam diri memeluk surat - surat.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Shin Jae Jun.
"Oh. maaf. Aku yang mengambil surat - surat didalam kotak surat itu." Jawab Cho Ha Na.
"Tidak apa - apa, tapi apa yang sedang kau lakukan?" tanya Shin Jae Jun lagi.
"Hatiku sakit. Ibu yang waktu itu mengirimi anaknya telur gulung, mengirim surat lagi..."Jawab Cho Ha Na.
"Apa isinya?" tanya Shin Jae Jun.
Cho Ha Na pun membacakan isinya, "Untuk Dong-ju yang ibu sayang, Chuseok adalah masa panen di Korea "Chuseok suadah lewat". Biasanya kita selalu melihat bulan purnama bersama sambil membuat harapan. Tahun ini, ibu melihat bulan purnama sendiri dan kau tahu apa yang ibu harapkan....Ibu sangat berharap untuk bisa melihatmu. Hanya itu yang bisa ibu pikirkan. Harapan ibu itu adalah, 'Tolong kembalikan anakku....'
"Tapi kita tidak mungkin memenuhi harapannya." Ucap Cho Ha Na lalu memeluk surat itu.
"Jadi, apakah itu alasanmu mengapa kau memeluki surat itu?" tanya Shin Jae Jun. Cho Ha Na mengangguk lalu Shin Jae Jun duduk disamping Cho Ha Na.
Lalu ia menarik Cho Ha Na ke pelukan bahunya.
"Aku akan memelukmu, kau tahu alasannya? Karena dengan begini. aku bisa memeluk surat itu juga." Ucap Shin Jae Jun.
"Kau tahu apa....Aku akan menulis. Kau ingat apa yang terakhir kali kau katakan? Kau berharap ada orang yang tetap memperhatikan orang yang telah meninggal. Tidak akan ada orang yang menulis surat seperti itu untukku. Kau ingat pernah mengatakan itu padaku?" tanya Cho Ha Na. Shin Jae Jun terdiam. "Aku yang akan menulis surat itu untukmu...setiap hari aku akan "Aku senang" ucapnya. Lalu mereka beedua berpandangan.
Cho Ha Na tiba - tiba mengucek matanya.
"Apa?" tanya Shin Jae Jun.
Aku pikir mataku kering. Ada apa?" jawab Cho Ha Na. Sepertinya Cho Ha Na hanya bisa melihat Shin Jae Jun samar - samar.
"Ada apa?" gumamnya seraya mengucek kedua matanya.
"Apa kau minum kopi?" tanya Shin Jae Jun.
To Be Continued.....
Langganan:
Postingan (Atom)































































































































































































































